Kerelaan Hati Ibu Imam Syafii Terhadap Anaknya
Di Makkah, Imam
Syafii
sudah menjadi seorang aIim besar walaupun usianya baru mencapai 20
tahun.
Namun begitu Imam Syafii belum merasa puas dengan ilmu yang
dimilikinya dan
masih ingin belajar ke tempat lain terutama di Madinah. Beliau
sangat ingin
berguru langsung dengan Imam Malik penyusun kitab Muwatta' yang
telah
dihafalnya telebih dahulu.
Wali kota Makkah
ketika
itu sangat gembira dan mendukung niat Imam Syafii dan berkenan
memberi
surat dukungan untuk dibawa ke Madinah. Dalam surat itu wali kota
Makkah
mengatakan bahwa pemuda ini sudah terkenal sebagai orang aIim di
Makkah dan
sangat ingin menyambung menuntut ilmu kepada Imam Malik. Sudilah
kiranya Wali kota
Madinah menerimanya.
Imam Syafil sangat
gembira menerima surat dukungan itu dan ingin segera berangkat ke
Madinah.
Beliau bergegas kembali ke rumahnya untuk memberi tahu dan meminta
izin kepada ibunya. Imam Syafii tidak dapat menahan perasaan gembiranya
dan
tanpa sengaja, ketika hendak masuk ke rumahnya , beliau mengetuk
pintu
rumahnya dengan cara agak kasar sekaligus membuat ibunya kurang
senang
dengan perlakuannya.
"Siapa di luar?" tanya ibunya.
"Saya Muhammad (Syafii)." Jawab Imam Syafli
lbu Imam Syafii itu menganggap anaknya masih rendah pengetahuan adab sopan santunnya dan dengan marah dia berkata:
"Pergi! Jangan kamu kembali, sebelum kamu belajar ilmu adab sopan santun. Jangan balik sebelum ilmumu sempurna,"
Mendengar perkataan ibunya itu, Imam Syafii sadar akan kesalahannya. Beliau berfikir sejenak, kemudian mengambil keputusan untuk pergi ke Madinah dan tidak akan kembali sebelum ilmunya sempurna, sesuai dengan perkataan ibunya.
Di Madinah beliau
diterima dengan baik oleh Imam Malik. Setelah belajar
beberapa tahun di Madinah, Imam Syafii Ingin pergi ke Iraq untuk
belajar
dengan ulama-ulama besar di sana. Namun dia masih rindu kepada
ibunya
karena sebelum berangkat ke Madinah dia tidak sempat melihat wajah
ibunya.
Lalu Imam Syafii meminta pandangan gurunya Imam Malik,
"Wahai guru", kata Imam Syafli kepada Imam Malik, "sewaktu saya keluar dari Makkah untuk mencari ilmu saya tidak sempat meminta izin kepada ibu saya. Maka sekarang perlukah saya meminta izin ataukah boleh saya meneruskan perjalanan?" Maka dijawab oleh Imam Malik" Wahai ananda! llmu pengetahuan itu berfaedah, pergilah kepada Ibumu untuk memberi faedah. ananda perlu ketahui bahwa para malaikat membentangkan sayapnya kepada penuntut ilmu sebab redha dengan apa yang dicarinya."
Imam Syafii terus
pergi
ke Iraq tanpa meminta izin kepada ibunya lagi. Beliau sudah maklum
bahwa
lbunya sudah meridhai kepergiannya untuk mencari ilmu. Kedua anak
dan Ibu
itu saling mendoakan. andai mereka berpisah di dunia asalkan bisa
berjumpa kembali di akhirat. ltulah prinsip yang dipegang oleh
keduanya.
Menurut Riwayat, lbu
Imam Syafii sebelum meninggal telah berwasiat kepada
tetangga-tetangganya bahwa
sekiranya Imam Syafii kembali dengan membawa harta kekayaan maka
hendaklah
disedekahkan harta tersebut kepada kaum kerabatnya yang hidup dalam
kesusahan.
Imam Syafii kembali setelah beberapa tahun lbunya meninggal. dan melakukan semua wasiat ibunya dia menyedekahkan semua uang yang diperolehnya sewaktu dia bekerja sebelum dia memasuki kota Makkah.
Ibunda Imam Syafii
tidak sempat bertemu dengan anaknya ( Imam Syafii ) namun Imam Syafii
telah memberikan kebanggaan besar terhadap Ibundanya sebab dengan
didikan dan kerelaan Ibunyalah melepas Imam Syafii untuk mencari Ilmu
yang lebih banyak dan bermanfaat, Imam Syafii tumbuh menjadi seorang
Ulama besar dalam Islam yang Ilmunya begitu bermanfaat bagi semua Umat
Islam didunia sampai detik ini. semua Ibu didunia ini tentu akan
meridhai apapun yang membuat anaknya bahagia dunia akhirat.
dikutip dari http://alperes.tripod.com dengan sedikit tambahan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar